Djokjakarta

Thursday, 20 April 2017

Peran Para Perwira Siliwangi Di Balik PDRI


Terbentuknya Pemerintah Darurat RI di Sumatera tidak serta merta timbul begitu saja namun sebelumnya memang sudah dipersiapkan antisipasi-antisipasi di pandang perlu mengingat alotnya perundingan Belanda-Indonesia yang sedang terjadi saat itu. Melihat kondisi seperti itu segala kemungkinan bisa saja terjadi dan sebelum semuanya terjadi maka perlu diperhitungkan kemungkinan yang mungkin bisa terjadi apabila perundingan tersebut kembali dilanggar dan terjadi seperti agresi militer I sebelumnya. Pasukan Divisi Siliwangi pernah merasakan pahitnya sebagai akibat dari dilanggarnya sebuah perundingan, mulai dari pecahnya agresi militer I sampai dengan harus meninggalkan sanak saudara dan tanah kelahirannya melakukan hijrah ke Jawa Tengah dan Yogyakarta berdasarkan perintah dari para pemimpin republik ini. Meskipun terasa berat namun harus dilaksanakan. Lebih dari 25.000 orang berangkat hijrah dari Jawa Barat. Mengingat apa yang telah dialami oleh Siliwangi serta mengingat semakin sempitnya wilayah RI di pulau Jawa serta sebagai naluri militer mengatakan bahwa perundingan yang terjadi sekarang ini apakah juga tidak akan berdampak seperti yang mereka alami sebelumnya. Atas dasar itulah kemudian muncul sebuah ide yaitu membuat pangkalan darurat atau pangkalan cadangan (Reserve Basis) bagi Pemerintah Pusat Republik Indonesia apabila terjadi kebuntuan/sengaja dibuntukan oleh salah satu pihak yang akhirnya bukannya tidak mungkin terjadi lagi agresi militer yang ke II. Menurut catatan Islam Salim (Islam Salim adalah putra dari H.Agus Salim yang pada saat itu berpangkat Kapten dan menjabat sebagai Asisten khusus/Ajudan Kol.Hidayat yang ikut menyertai Mohammad Hatta saat melakukan inspeksi di Sumatera dalam rangka persiapan Pangkalan Darurat Pemerintah Pusat RI.), ide tentang perlunya antisipasi apabila sewaktu-waktu Belanda melakukan agresi militer ini atas usul dari Letkol Daan Jahja.  Ide ini muncul pada saat pasukan dan staf Divisi Siliwangi setelah melakukan hijrah dari Jawa Barat ke Jawa Tengah dan Yogyakarta sebagai salah satu konsekwensi dari persetujuan Renville. Pada saat di Yogyakarta yaitu di Hotel Merdeka (sekarang hotel Garuda In) berkumpul Letkol Daan Jahja, Mayor Oetarjo dan Kapten Islam Salim sedang duduk bersama sambil ngobrol-ngobrol, dalam suasana itu tiba-tiba Letkol Daan Jahja menungkas : “Enak-enak ngopi, nggak mikirin kemungkinan penyerangan Belanda lagi ! bagaimana pemerintah pusat kita mau bergerilya di Jawa Tengah yang sempit dan padat ini ! karena tanpa suatu Pemerintahan Pusat, perjuangan bersenjata betapapun dahsyat akan merupakan sekedar suatu pemberontakan suatu bangsa melawan kekuasaan yang syah.” Setelah melalui pertukaran pemikiran secara informal dengan Mayor Oetarjo, Kapten Islam Salim dan beberapa mahasiswa dari Prapatan 10 dan dari diskusi mereka itu kemudian Daan Jahja pada bulan Maret 1948 kemudian maju dan menyampaikan memorandum tentang usulan perlunya dipersiapkan segera suatu pangkalan darurat/pangkalan cadangan bagi pemerintah pusat RI, dan tempat yang diusulkan adalah wilayah Sumatera Tengah kepada Wapres/PM/Menhan Mohammad Hatta dalam suatu kesempatan. Ini dengan pertimbangan bahwa wilayah Jawa Tengah merupakan wilayah yang terlalu sempit untuk kebebasan bergerak bagi Pemerintah Pusat RI menghadapi agresi militer Belanda yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

Setelah membaca situasi yang digambarkan dalam memorandum yang diajukan oleh Letkol Daan Jahja tersebut Wapres Mohammad Hatta menyetujui hal tersebut dan kemudian antara bulan Mei-Juli 1948 rencana pun disusun. Sebagai langkah awal 2 orang menteri kemudian ditempatkan di Bukittinggi, yaitu Mr. Sjafruddin Prawiranegara dan Mr. Loekman Hakim. Selanjutnya Wapres Mohammad Hatta kemudian mengirim dua rombongan perwira TNI untuk melakukan penjajagan dan persiapan disana. Rombongan perwira TNI yang pertama dipimpin oleh Letkol Daan Jahja dengan anggota-anggotanya yaitu Mayor Oetarjo, Mayor Tjakradipura, Kapten Joen Joenoes dan Letnan Sofjan Djoenaed. Rombongan ini berangkat ke Sumatera dengan menggunakan pesawat Dakota UNCI. Kemudian setelah itu disusul rombongan ke dua yang dipimpin oleh Letkol AE Kawilarang dengan membawa Mayor Akil Prawiradiredja, Kapten Ibrahim Adjie, Kapten Jusuf Ramli. Letnan Kasad Hutabarat dan Letnan Abu Umar. Rombongan ini berangkat dengan menggunakan pesawat carteran Catalina. Mengapa para perwira yang melakukan persiapan-persiapan basis cadangan tersebut (kecuali Mayor Oetarjo yang berasal dari Markas Besar Tentara di Yogyakarta) terdiri dari para perwira Divisi Siliwangi ? kemungkinan hal tersebut karena hijrahnya Divisi Siliwangi ke Jawa Tengah dan Yogyakarta sehingga terjadi penciutan tanggung jawab teritorial sehingga sejumlah perwira dapat diperbantukan guna tugas-tugas khusus diluar kesatuan dan daerah operasi kesatuannya.

Pada saat mereka tiba di Sumatera dan mulai melakukan hubungan dengan PTTS (Panglima Tentara dan Teritorium Sumatera) yang saat itu dipegang oleh Mayor Jenderal Soehardjo terutama mengenai langkah-langkah persiapan tentang basis cadangan untuk pemerintah pusat, namun ternyata hal tersebut tidak mendapatkan pengertian serta  kesempatan bekerja dari PTTS serta rombongan tersebut hanya dibiarkan di Bukitinggi dengan tanpa bisa melakukan kegiatan apapun, bahkan disana sedang terjadi perang saudara antar TNI. Melihat situasi seperti itu Letkol Daan Jahja terpaksa kembali ke Yogyakarta untuk melaporkan keadaan yang sedang terjadi serta kendala yang dihadapi dalam usaha persiapan pembangunan basis cadangan Pemerintah Pusat RI. Melihat rencana persiapan basis cadangan dihadapi mengalami kendala yang tidak dapat diatasi oleh dua gelombang rombongan perwira tersebut maka Mohammad Hatta pun merasa perlu untuk berangkat ke Sumatera. Keberangkatan Wakil Presiden ini di dampingi oleh Wakil I KSAP yang juga mantan Wakil Panglima Divisi Siliwangi yaitu Kolonel Hidayat beserta ajudannya yang diambil Kapten Islam Salim, seorang perwira yang diperbantukan kepada Staf Angkatan Perang RI dan di tugaskan dalam Sekretariat Panitia Pusat Gencatan Senjata RI di Yogyakarta. Pada awal bulan November 1948 Wapres Mohammad Hatta pun melakukan inspeksi untuk melihat kondisi serta persiapan-persiapan yang telah dilakukan disana. Dalam inspeksi ini Mohammad Hatta di dampingi oleh Kolonel Hidayat yang saat itu sebagai Wakil I KASAP beserta ajudannya yaitu Kapten Islam Salim. Ikut sertanya Kolonel Hidayat dalam rombongan inspeksi tersebut pada awalnya adalah mendampingi Wapres dalam rangka inspeksi dengan maksud untuk menyelesaikan masalah pembentukan basis cadangan di Bukittinggi, namun karena adanya perang saudara yaitu antara pasukan Mayor Liberty dengan pasukan Mayor Bedjo di Tapanuli  maka rombongan Wapres tersebut dengan di dampingi pula oleh Mayor Oetarjo dan David Munte dari Corps Mahasiswa sebagai penerjemah apabila dibutuhkan di jalan pun berangkat ke Sibolga, Tapanuli. “Waktu itu saya selaku Wakil I Kepala Staf APRI dengan pangkat Kolonel, ditugaskan oleh pimpinan APRI di Yogyakarta untuk membenahi “policy” yang dipakai oleh Panglima Sumatera, Mayjend Soehardjo. Tetapi misi saya tidak digubris” ungkap Hidayat Martaatmadja dalam sebuah kesempatan. Hal tersebut kemungkinan salah satunya adalah faktor kepangkatan dimana Hidayat satu klik dibawah Soehardjo (karena saat itu belum dikenal pangkat Brigadir Jenderal) sehingga secara psikologis maupun kesetaraan jelaslah Soehardjo “kurang mau mendengar” saran-saran “juniornya” secara kepangkatan. Menghadapi situasi seperti itu maka setelah mengadakan pertemuan kilat dengan para pejabat sipil dan militer setempat Wapres/PM/Menhan Drs. Mohammad Hatta bersama Wakil I KSAP Kolonel Hidayat kemudian mengeluarkan perintah penghentian tembak menembak kepada kedua belah pihak tersebut serta mengangkat Letkol A.E.Kawilarang sebagai Komandan Sub-Teritorium VII/Tapanuli-Sumatera Timur Selatan dan Mayor Oetarjo sebagai kepala stafnya dan Mayor Akil Prawiradiredja sebagai Komandan Sub-Teritorium Riau, yang bersama Sub-Teritorium VII merupakan wilayah dampingan Sumatera Tengah yang seperti yang akan direncanakan sebelumnya sebagai basis cadangan Pemerintah Pusat RI kelak apabila terjadi agresi militer Belanda yang ke 2 selain mengatasi kemelut di daerah Tapanuli tersebut. Bersamaan dengan itu Kolonel Hidayat yang pada saat itu menjabat Wakil I KASAP kemudian ditunjuk dan diangkat sebagai Panglima Tentara Teritorium Sumatera (PTTS) menggantikan Mayjend Soehardjo Hardjowardojo yang kemudian ditarik ke Yogyakarta. Mulai saat itu Kolonel Hidayat memiliki dua jabatan secara rangkap, yaitu Wakil I KASAP yang sekaligus juga sebagai PTTS. Sebelum Wapres/PM/Menhan Mohammad Hatta kembali ke Ibukota Yogyakarta diadakan pertemuan/pembicaraan khusus  terlebih dahulu dengan Mr.Sjafruddin Prawira Negara dan Mr.Teuku Hassan, koordinator Provinsi Sumatera terutama ini yang  berkaitan dengan dengan persiapan-persiapan Pangkalan Darurat Pemerintah Pusat Republik Indonesia dan juga sekaligus memperkenalkan Kolonel Hidayat sebagai PTTS yang baru menggantikan Mayjend Soehardjo Hardjowardojo.


       Dan apa yang khawatirkan pun terjadi, tanggal 19 Desember 1948 pagi Ibukota Yogyakarta diserang pasukan Belanda. Berita tentang kejatuhan Ibukota dan tertawannya para pemimpin Pemerintah Pusat RI diterima di Bukittinggi secara samar-samar. Setelah mendengar salah  satu pemimpin militer / KSAP juga tertawan maka Kolonel Hidayat yang juga menjabat sebagai Wakil I KSAP maka berdasarkan aturan militer dengan sendirinya menjabat sebagai pejabat sementara KSAP. Mengingat perlunya kesinambungan pemerintahan RI tetap harus berdiri dan di pertahankan serta untuk menghindari kesempatan Belanda dengan propagandanya menganggap bahwa pemerintahan RI sudah tidak ada dan perjuangan dianggap sebagai “suatu bangsa dalam pemberontakan terhadap kekuasaan asing yang sah” maka Kolonel Hidayat dengan di dampingi oleh ajudannya yaitu Kapten Islam Salim merasa perlu untuk mendatangi Menteri Kemakmuran Mr.Syafruddin Prawiranegara untuk membahas tentang pengumuman  pembentukan Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Sumatera. Desakan ini bukannya tanpa dasar tetapi karena urgensi yang terjadi saat itu. Pada awalnya Mr.Syafruddin Prawiranegara bimbang dan ragu-ragu, hal ini dikarenakan belum diterimanya “perintah resmi” dari Pemerintah Pusat RI di Yogyakarta meskipun sebelumnya dia sudah mengetahui adanya rencana pembentukan Pemerintah Darurat RI apabila Pemerintah Pusat tidak berfungsi dan tidak dapat menjalankan tugasnya lagi akibat suatu serangan Belanda. Atas dasar desakan serta dorongan dari Angkatan Perang Republik Indonesia cq Kolonel Hidayat akhirnya Mr.Syafruddin Prawiranegara bersedia membentuk PDRI. Untuk selanjutnya Kolonel Hidayat pun menyerahkan sepenuhnya pembentukan pembentukan PDRI termasuk kabinet nantinya kepada Mr.Syafruddin Prawiranegara. Akhirnya Mr.Syafruddin pun berangkat ke desa Halaban dan pada tanggal 22 Desember 1948 terbentuklah PDRI lengkap dengan menteri-menteri kabinetnya.

Friday, 18 November 2016

Peristiwa Insiden Bendera Cokan Kantai 21-9-1945








Persitiwa Insiden Bendera pada tanggal 21-9-1945 ini diawali dengan sekelompok pemuda mendatangi gedung Balai Mataram / gedung seni sono untuk mengibarkan bendera merah putih. Setelah bendera berhasil dikibarkan kemudian datanglah serdadu Jepang dari Gedung Cokan Kantai (Gedung Agung)yang berusaha untuk membubarkan kelompok pemuda itu dan kemudian menurunkan bendera merah putih dan menggantinya kembali dengan bendera hinomaru.
Kira-kira pukul 12.00 datang secara berduyun-duyun massa rakyat dan pemuda mendatangi Cokan Kantai dengan membawa senjata seadanya seperti golok, tombak,palu, bambu runcing dan lain-lain. Melihat kondisi yang semakin panas maka  Jepang mempersiapkan serdadu-serdadunya dengan bersenjata lengkap untuk menghadang massa yang semakin merangsek untuk memasuki area gedung Cokan Kantai tersebut. Melihat pasukan yang bersenjata lengkap ternyata tidak menciutkan nyali massa dan para pemuda tersebut. Tanpa memperdulikan keadaan mereka terus merangsek masuk dan menerobos penjagaan pasukan Jepang untuk menurunkan bendera hinomaru. Tercatat 5 orang pemuda dan 1 pemudi menerobos masuk dan menaiki atap gedung tersebut dan menurunkan bendera hinomaru serta menggantinya dengan bendera Merah Putih serta mereka bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya serta memekikan kata “Merdeka”.
Ke enam orang tersebut adalah : Kapten (polisi) Slamet C, Siti Ngaisah, Sultan Iljas, Supardi, Rusli dan H.Samawi (PU Harian Kedaulatan Rakyat).
Sumber : Sejarah Revolusi Kemerdekaan (1945-1949), Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, 1991.

Monday, 17 October 2016

Buku KNIL DAN REVOLUSI INDONESIA


Knil sering di identikan sebagai musuh yang tidak termaafkan di negeri ini berbeda dengan tanggapan orang tentang Peta. Namun di sadari atau tidak para eks Knil juga memiliki peranan penting terutama dalam meletakan dasar awal angkatan bersenjata Indonesia di awal-awal kemerdekaan. Dan Knil juga melahirkan tokoh-tokoh penting di negeri ini . Pembangkangan dan pemberontakan terhadap pemerintah belanda yang tidak tercatat dalam lembaran sejarah bangsa ini. Knil mungkin tidak seheroik Peta tapi para eks Knil di akui atau tidak juga telah memberikan kontribusi yang tidak kecil bagi bangsa ini.

Tertarik dengan buku ini ? 
contact : 08562857189 untuk pemesanan

Buku DJOCJAKARTA

                                          Judul      : DJOCJAKARTA , MEREKA (PERNAH) DISINI
                                          ISBN     : 978-602-1634-20-2
                                          Penerbit : Mata Padi Pressindo
                                          Harga    : IDR 60.000 (harga belum termasuk ongkir)
                                          Order    : WA : 082137450693, pin bbm by request

Sinopsis : “Kami harus mengakui - jujur kita hanya prajurit biasa yang bekerja dan berpatroli setiap hari. Kami yang hanya prajurit yang menjalankan tugas kami hanya bisa patuh dan tidak bisa mengajukan keberatan atas apa yang telah terjadi......Jadilah bijaksana ditengah kegilaan suasana..”

Buku ini berkisah bagaimana sebuah operasi militer berskala besar yang nyaris tertunda, bagaimana perasaan para prajurit yang di terbangkan ke yogya, apa yang mereka alami saat bergerak menuju yogya, bagaimana tanggapan media massa negeri mereka terhadap operasi yang mereka lakukan, tertangkapnya seorang perwira menengah dan penyiar yang berlidah tajam, bagaimana keadaan yogya pasca operasi kraai, operasi yang harus dilupakan, adanya tradisi kampus yang mempengaruhi sebuah tindakan, adanya proklamasi ke 2 dll ...Semoga buku ini bisa memberikan gambaran tentang apa yang terjadi di masa-masa revolusi mempertahankan kemerdekaan khususnya di Yogyakarta yang pernah menjadi Ibukota Republik Indonesia..

Tuesday, 19 January 2016

Bagan Posisi Pasukan Belanda di dalam Kota Yogyakarta

Bagan diatas adalah situasi serangan terhadap pos-pos Belanda di dalam kota Yogyakarta.

Lokasi Pos-Pos Belanda yang tersebar di dalam kota Yogyakarta

Diagram kekuatan pasukan Belanda yang terbagi dalam beberapa kelompok : peleton, kompi maupun regu yang disebar di setiap posisi strategis di dalam kota dan sekitarnya


Wednesday, 13 January 2016

Pasukan yang ikut andil dalam Operatie Kraai


       Operatie Kraai merupakan sebuah operasi militer yang dilakukan di 2 tempat yaitu pulau jawa dan sumatera. Bagan ini memberikan sedikit gambaran tentang pasukan-pasukan yang terlibat dalam actie khususnya di jogjakarta pada tanggal 19 Desember 1948. Sering kita mendengar tentang operasi ini dimulai dengan serangan udara ke maguwo, namun di balik itu terdapat sebuah cerita menarik yang jarang terekspose yaitu adanya sebuah kapal korvet Hr.Ms.Banda yang menjadi Beeper / pemandu sinyal untuk pesawat yang menuju ke maguwo yogyakarta. Dini hari pesawat-pesawat pengangkut pasukan KST dan pesawat-pesawat penyerbu ( lihat di bagan atas ) terbang secara berpencar, tujuannya adalah untuk mengelabui petugas KTN seolah-olah mereka tidak melakukan penyerbuan ke sebuah lokasi. Namun di koordinat tertentu mereka bertemu dan melakukan "konvoy udara" menuju satu titik yaitu maguwo yogyakarta. Ms Banda melakukan lepas / lego jangkar di selatan laut Yogyakarta yang menjadi "pemandu sinyal koordinat" pesawat - pesawat tersebut agar mencapai tujuannya. 
        Operasi ini di hari yang sama bergerak dalam 2 gelombang, udara dan darat. Ada yang tergabung dalam Group M dan ada yang tergabung dalam koloni tempur 1. Koloni militer 1 bergerak dari salatiga dan boyolali dengan tujuan yang sama, Yogyakarta !. Mereka baru tiba di Yogyakarta siang menjelang sore harinya.



Bendera Merah Putih yang diambil saat Operatie Kraai masih tersimpan di museum di Belanda

 
Bagan tersebut di olah dari berbagai sumber.

Monday, 21 September 2015

Jejak Pertempuran di Maguwo ( Operatie Kraai )


Ini adalah gerbang utama / Jalur Utama (saat itu) Pangkalan Udara Maguwo ke arah jalan raya dan jalur ini disinyalir yang di gunakan oleh tentara belanda keluar masuk pangkalan udara dan menyerbu kota Yogyakarta pada tanggal 19 December 1948 (Operatie Kraai). Di ujung jalan tersebut berdiri tugu monumen bakti prajurit untuk mengenang prajurit TNI AU yg gugur mempertahankan PU Maguwo dari serangan Belanda tgl 19 Desember 1948 (agresi militer Belanda II).

Thursday, 10 September 2015

Beberapa Fakta Unik di Balik Kegarangan Pasukan KNIL

Fakta unik ini berdasarkan studi Capt. R.P. Suyono terhadap berbagai literatur Belanda yang dtuangkannya dalam buku Peperangan Kerajaan di Nusantara (penelusuran kepustakaan sejarah), terbitan Grasindo tahun 2003. 

1. Seragam KNIL
Sejak dibentuk pada tahun 1830, seragam KNIL selalu mengalami pergantian. Pada tahun 1894 seragam KNIL  dinamakan syako dengan topi helm dari gabus. Topi gabus tersebut baru diganti pada tahun 1910 dengan bahan yang terbuat dari bambu. Pada tahun 1915 KNIL mendapat seragam baru yang tebal dan susah dicuci sehingga akhirnya diganti dengan bahan linen dengan celana yang lebih tipis. Pada tahun 1936 seragam KNIL adalah kain hijau yang dinamakan tenunan Garut.
Fakta lain adalah ketika berada di tangsi, hanya perwira dengan pangkat minimal Sersan --rata-rata orang Eropa-- yang boleh mengganti baju dengan pakaian biasa sedangkan para prajurit pribumi dilarang mengganti baju sehingga selalu memakai seragam. Entah berapa banyak seragam yang dimiliki oleh para prajurit pribumi ini, jika cuma satu berarti tidak pernah digantinya.

2. Kehidupan di Tangsi
Tangsi merupakan tempat tinggal para prajurit KNIL, entah yang masih bujangan maupun yang sudah menikah. Tangsi biasanya dibangun di tengah kota, mungkin untuk mempermudah akses. Prajurit yang masih bujangan tidur di barak yang tempat tidurnya berjejer sedangkan yang sudah menikah baraknya disekat dengan ukuran 3x4 meter. Ruangan ini hanya cukup untuk satu tempat tidur saja, oleh karena itu anak-anaknya ditempatkan di bawah kolong tempat tidur sehingga muncul istilah anak kolong bagi anak-anak polisi atau tentara.

3. Dardanel
Dardanel merupakan sebutan bagi seorang prajurit pribumi yang harus menjaga keselamatan seorang perwira Belanda yang menjadi atasannya. Ternyata perwira Belanda cukup pengecut karena harus dilindungi oleh seorang prajurit pribumi. Mungkin hal ini juga didasarkan pada pertimbangan bahwa pasukan akan kocar kacir jika kehilangan komandannya. Doktrin yang ditanamkan pada seorang dardanel adalah sungguh memalukan atau nista jika seorang dardanel selamat sedangkan perwira yang dilindunginya meninggal. Dengan kata lain dardanel tersebut harus rela mengorbankan nyawanya bagi perwira yang dilindunginya.

4. Kebiasaan Prajurit Jawa
Selain tidak memakai sepatu hingga tahun 1905 dan tergabung dalam kompi yang bertugas untuk menenangkan dan menetralisir situasi pasca peretempuran, prajurit Jawa juga memiliki keunikan dari kebiasaan yang tidak bisa ditinggalkan. Kebiasaan tersebut adalah sangat bergantungnya prajurit Jawa pada bakul kamu. Mungkin jamu mengembalikan stamina mereka setelah bertempur. Pada beberapa foto yang dihadirkan oleh Suyono terlihat prajurit Jawa sedang beristirat sambil menikmati Jamu yang dibuat oleh seorang mbok jamu.
Demikian beberapa fakta unik di balik kegarangan pasukan KNIL yang terkenal kejam selama menumpas perjuangan rakyat di berbagai daerah. Kemiskinan dan tidak adanya wawasan tentang kebangsaan pada saat itu membuat mereka menerima pekerjaan sebagai prajurit KNIL meski mengalami berbagai kesulitan.

Saturday, 20 June 2015

Pertempuran Inggris dan Keraton Yogyakarta Tahun 1812

         Sengitnya pertempuran antara Kerajaan Inggris dan Kasultanan Yogyakarta pada Jumat-Sabtu, 19 dan 20 Juni 1812, dicatat oleh seorang serdadu Inggris, Kapten William Thorn. Dia menulis perjalanan penaklukan Inggris ke Jawa dalam Memoir of The Conquest of Java yang terbit pada 1815 di London. Kelak orang Jawa menjuluki pertempuran ini dengan “Geger Spehi”—Perang Spoy.

         Thorn melukiskan keadaan pertahanan Keraton Yogyakarta. “Kraton atau kediaman Sultan Mataram,” demikian tulisnya, “dikelilingi oleh parit basah nan lebar dengan jembatan jungkit; dinding benteng yang tebal dan kokoh dengan bastion [pojok benteng yang menjorok] dan diperkuat dengan seratus meriam.”

         Dalam pertempuran dua hari itu Inggris berkekuatan sekitar 1.000 serdadu berseragam merah, yang terdiri atas serdadu asal sepoy India dan serdadu Eropa. Jumlah itu masih ditambah 500 prajurit Legiun Pangeran Prangwedono asal Mangkunagaran, Surakarta. Sementara, menurut Thorn, terdapat sekitar 17.000 prajurit Keraton yang bersiaga di dalam baluwarti (tembok keraton).

         Tembak-menembak antara Benteng Vredeburg—sebagai kubu pertahanan Inggris—dan Keraton sebenarnya sudah dimulai sejak 18 Juni sore. Menurut Thorn, benteng ini, “hanya sedikit meninggalkan bubuk mesiu dari pabrik mesiu lawas tinggalan Belanda, sangat buruk,” ungkapnya, “sehingga tembakan kami ibarat hanya menghibur musuh.”
plengkung,keraton yogyakarta,benteng,tembok,baluwartiPara perempuan dengan barang dagangan mereka di sepanjang jalan menuju pintu gerbang Keraton Yogyakarta, Plengkung Nirbaya. Pintu ini terletak di tembok baluwarti sisi selatan. Foto sekitar 1900-1920, tampaknya masih ada parit saat itu(Tropenmuseum/Wikimedia Commons) 
         Sejatinya, Inggris masih menanti pasukan Letnan Kolonel Alexander MacLeod yang tengah berangkat dari Salatiga menuju Yogyakarta. Pasukan susulan itu baru tiba pada esoknya, dan langsung menggempur Keraton.

         Pertahanan Sultan yang paling kuat dengan meriam-meriam bermulut ganda berada di kawasan Alun-alun utara. Namun, tampaknya Inggris tidak menempatkan kawasan ini sebagai serangan utama, melainkan serangan pengecoh.

        Serangan utama Inggris tertuju pada sisi timur baluwarti—kini sepanjang Jalan Brigjen Katamso. Gempuran tersebut dilakukan oleh Kolonel James Watson yang membawahi Resimen Infanteri ke-14, Buckinghamshires. Mereka mendekati bastion timur laut dengan dilindung penembak-penembak Inggris.

         Bastion timur laut tempat gudang mesiu prajurit Sultan berhasil diledakkan oleh serdadu sepoy di bawah komando Watson. Tampaknya ledakan penyimpanan bubuk mesiu itu sangat dahsyat. Setelah ledakan, pertahanan baluwarti mulai mengendur sehingga mereka berhasil menurunkan jembatan jungkit di gerbang utama Kadipaten.
Mungkin akibat ledakan itulah bastion timur laut itu rusak berat dan hingga hari ini pertahanan baluwarti hanya menyisakan tiga bastion—warga menjulukinya dengan Pojok Beteng Wetan, Pojok Beteng Kulon, dan Pojok Beteng Lor.

         Plengkung Tarunasura/Pancasura, kini lebih dikenal dengan Wijilan, sebagai gerbang utama Kadipaten diserang oleh pasukan Letnan Kolonel Alexander MacLeod. Gerbang masih dijaga pertahanan kuat laskar Sultan. Para serdadu sepoy India itu merayapi dinding baluwarti dengan cara saling memanjat pundak temannya hingga mencapai celah baluwarti. Akhirnya, artileri tempur Inggris berhasil meledakkan gerbang itu.
prajurit,keraton yogyakartaSebuah kesatuaan prajurit pengawal Sultan Hamengkubuwana pada sekitar 1920-an, sekitar seratus tahun lebih setelah leluhur mereka bertempur dengan serdadu Inggris (Tropenmuseum/Wikimedia Commons)

         “Musuh menyapu tembok baluwarti dengan tembakan senapan dari bastion tenggara,” catat Thorn. Namun, “akhirnya [bastion itu] takluk diujung bayonet.” Kemudian, setelah beberapa pertempuran di sisi selatan baluwarti, serdadu Inggris berhasil membuka gerbang selatan, Plengkung Nirbaya.

         Berikutnya, serdadu sepoy dan Inggris berhasil membobol pintu gerbang barat, Plengkung Jagabaya. Pertahanan baluwarti terakhir yang mampu dipertahankan laskar Sultan adalah bastion barat laut, kemudian mereka menyelamatkan diri ke sebuah masjid di luar baluwarti, demikian papar Thorn. Tampaknya yang dimaksud Thorn adalah Masjid Besar Kauman.

         Mengapa pertahanan keraton lemah? Peter Brian Ramsay Carey, seorang Professor Emeritus dari Trinity College, Inggris, memaparkan suasana dari dalam baluwarti lewat salah satu sumber Jawa tentang pertempuran tersebut.

         Menurutnya, sumber Babad Bedhah ing Ngayogyakarta telah mengungkapkan rendahnya daya juang para pembela keraton. Babad jatuhnya Yogyakarta itu ditulis dalam buku harian Pangeran Panular, seorang putera Sultan yang turut bertempur pada Juni 1812.
yogyakarta,benteng,keraton yogyakarta,pojok betengSebuah pedati melintasi bastion dalam perbentengan Keraton Yogyakarta sekitar awal abad ke-20. Dari empat kubu bastion, atau warga menyebutnya "pojok beteng", kini hanya tersisa tiga kubu. (Tropenmuseum/Wikimedia Commons)

         “Banyak di antara pangeran yang mestinya memberi teladan di medan tempur dengan memimpin perlawanan, hanya mencawat ekor dalam perlindungan pintu-pintu gerbang atau berpura-pura sakit,” demikian tulis Carey. Dia menulis berdasarkan pemerian babad tersebut  dalam bukunya, Kuasa Ramalan yang terbit pada 2011.

         Bahkan, sebagian dari mereka mencari selamat dengan cara keluar keraton menuju desa-desa di pinggiran dan makam Imogiri, demikian suasana yang dikisahkan dalam babad tersebut menurut Carey.

         Babad tersebut, ungkap Carey, juga mengisahkan kerisauan hati Sultan Hamengkubuwana II, atau yang dikenal sebagai Sultan Sepuh. Para laskar perempuan yang mengawal Sultan pun turut berdzikir dan berdoa.

         Perang ini diakhiri dengan menyerahnya Sultan Sepuh dan dimulainya penjarahan besar-besaran atas harta, pusaka, dan pustaka Keraton Yogyakarta. Awal Juli 1812, Sultan dibuang ke Pulau Penang.

         Dalam pertempuran dua hari itu, dari seribu serdadu Inggris, sekitar seratus orang tewas. Sedangkan di pihak Sultan “tidak dapat dihitung secara tepat,” ungkap Thorn. “Namun pastinya sangat besar jika kita melihat mereka yang terbunuh dan terluka di sepanjang baluwarti dan bastion. Jumlah tewas yang luar biasa di setiap gerbang, tertutama di kawasan tengah.”      

         “Nama Djoejocarta [Yogyakarta] akan selalu mengingatkan kisah kegagahan  serdadu Inggris,” demikian tulis Thorn, “penyerangan dan penaklukan sebuah pertahanan benteng yang kuat di bawah kecamuk perang.”
         Invasi Inggris ke Jawa 1811 merupakan ekspedisi laut terbesar dalam sejarah, setidaknya hingga jelang Perang Dunia Kedua. Di bawah Letnan Jenderal Sir Samuel Auchmuty, hampir 12.000 serdadu yang berlayar dalam 100 kapal melintasi Samudra Hindia dan mendarat di Cilincing. Atas titah Lord Minto, mereka berupaya merebut kekuasaan Prancis di Jawa.
Demikianlah, kesaksian serdadu Inggris dan prajurit Jawa tentang pertempuran yang mengantarkan Tanah Jawa ke tatanan kolonial.

Sumber :  http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/11/kecamuk-pertempuran-inggris-dan-keraton-yogyakarta-1812

Saturday, 6 June 2015

Pabrik Rokok Cerutu Negresco


          Pada tahun 1870, pengusaha asing mulai datang di Hindia Belanda untuk mendirikan pabrik cerutu. Negresco didirikan pada tahun 1918 oleh Mignot & De Block Cigar Company, yang berkantor pusat di Eindhoven, Belanda. Negresco awalnya dimaksudkan untuk menyediakan cerutu untuk tentara Belanda dan pejabat tinggi di Yogyakarta setelah kurangnya cerutu karena Perang Dunia I. Tapi kemudian, perusahaan melihat bahwa orang-orang Jawa yang juga tertarik untuk merokok, sehingga mereka memutuskan untuk menjual cerutu sekitar Hindia Belanda juga.
            Bisnis berjalan dengan baik sehingga pada tahun 1930, pabrik telah mencapai lebih dari 1000 pekerja. Kepentingan di balik pendirian pabrik ini di Yogyakarta yang beragam. Ada, tentu saja, kepentingan ekonomi sebagai Mignot & De Block berusaha untuk mengurangi biaya produksi mereka dengan menggunakan tenaga kerja murah dan Jawa datang dekat dengan sumber bahan mereka. Namun, ada untuk kepentingan agama juga.
Pada saat Perang Dunia II dan Jepang menginjakkan kaki di Jawa pada tahun 1942, mengusir Belanda, dan menduduki pulau. Mereka mengambil kendali dari segala sesuatu, termasuk Negresco yang namanya mereka berubah kemudian menjadi Jawa Tobacco Kojo. Jepang disita mesin dari pabrik Tembakau Inggris-Amerika di Cirebon dan membawa mereka ke Yogyakarta untuk membuat rokok cahaya. Meskipun demikian, kontrol ini berlangsung seperti selama pendudukan itu sendiri, yang berakhir setelah tiga tahun setengah.
           Ketika Perang Dunia II berakhir pada tahun 1945, di pihak yang kalah, Jepang harus melarikan diri. Indonesia langsung menyatakan kemerdekaan dan pabrik cerutu diambil oleh Sultan Hamengku Buwono IX dari Yogyakarta dan sultan memberi nama pabrik itu dengan nama pabrik 'Taru Martani', yang berarti 'daun yang memberikan kehidupan. "


Sumber : http://latitudes.nu/taru-martani-a-story-of-cigars-and-indonesia/

Friday, 5 June 2015

Sejarah Paspampres


        Pasukan Pengamanan Presiden (PASPAMPRES) hadir hampir bersamaan dengan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, sebagaimana hal yang sama terjadi dengan kelahiran TNI dan Polri. Ketika kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan, para pemuda pejuang tergerak untuk mengambil peranan mengamankan Presiden. Para pemuda tersebut terdiri dari kesatuan Tokomu Kosaku Tai, yang berperan sebagai pengawal pribadi, dan para pemuda mantan anggota kesatuan Peta (Pembela Tanah Air) berperan sebagai pengawal Istana.
     Situasi keamanan pada awal kemerdekaan Republik Indonesia sangat memprihatinkan. Di beberapa daerah terjadi pertempuran sebagai respon atas keinginan penjajah Belanda, yang disokong oleh bantuan tentara sekutu, untuk menduduki kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia . Situasi semakin berbahaya ketika keselamatan Presiden mulai terancam dengan didudukinya Jakarta oleh Belanda pada tanggal 3 Januari 1946. Mengingat kekuatan bersenjata Belanda yang semakin besar dan terpusat di Jakarta, serta pertimbangan intelijen RI saat itu yang memerkirakan adanya keinginan Belanda untuk menyandera Presiden RI dan Wakil Presiden RI, maka Mr Pringgodigdo selaku Sekertaris Negara mengeluarkan perintah untuk melaksanakan operasi penyelamatan pimpinan nasional. Operasi ini kemudian dikenal dengan istilah “Hijrah ke Yogyakarta”. Pada pelaksanaan penyelamatan ini telah ditampilkan kerjasama unsur – unsur pengamanan Presiden RI yang terdiri dari beberapa kelompok pejuang. Mulai dari   kelompok yang menyiapkan Kereta Api Luar Biasa (KLB), pengamankan rute Jakarta – Yogyakarta, hingga penyelenggaraan pengamanan di titk keberangkatan yang terletak di belakang kediaman Presiden Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur no 56, Jakarta.
          Secara rahasia KLB ini diberangkatkan pada tanggal 3 Januari 1946 sore hari menjelang senja. Keesokan harinya tanggal 4 Januari 1946, KLB tiba di Yogyakarta. Setibanya di Yogyakarta Presiden RI menetap di bekas rumah Gubernur Belanda di Jalan Malioboro (depan benteng Vredenburg). Sedangkan Wakil Presiden RI bertempat tinggal di Jalan Reksobayan no. 4 Yogyakarta. Dalam pelaksanaan operasi penyelamatan saat itu, telah terjadi kerja sama antara kelompok pengamanan yang terdiri dari unsur TNI dan Polri. Untuk mengenang keberhasilan menyelamatkan Presiden Republik Indonesia yang baru pertama kalinya dilaksanakan tersebut, maka tanggal 3 Januari 1946 dipilih sebagai Hari Bhakti Paspampres.

Sumber :  http://paspampres.mil.id/id/sejarah-paspampres/awal-kelahiran-paspampres

Sunday, 17 May 2015

Atitoen Wirjosoemarto Staf Putri Tentara Pelajar








Penugasan Pertama

Tahun lalu, ketika saya menerima tugas pertama setelah mengikuti latihan dasar kemiliteran di Militer Akademi Kotabaru bersama beberapa teman asrama dan sekolah (SGP) Jalan Jati Yogyakarta, saya dan mbak Kushartini dikirim ke Mojoagung Mojokerto Jawa Timur untuk mengirim sejumlah bahan makanan kering (dendeng) dan obat-obatan bersama sepasukan anggota Ikatan Pelajar Indonesia bagian Pertahanan yang dipimpin oleh Purbatin. Kami berangkat menggunakan kereta api pagi yang menarik dua gerbong. Sampai di Solo, perjalanan aman. Menjelang masuk hutan jati Mantingan, Purbatin memerintahkan masinis menghentikan kereta dan ia turun bersama empat anggota pasukan untuk memeriksa keadaan. Menurut cerita yang mereka dengar, tiga kawasan hutan yaitu Mantingan, Saradan dan Caruban dikuasi oleh gerombolan perampok kejam. Sekitar satu jam kemudian, kereta itu berjalan. Hal yang sama terjadi di kawasan hutan Saradan dan Caruban. Menjelang maghrib, kereta memasuki stasiun madiun dan berhenti sekitar dua jam untuk menaik-turunkan barang dan menambah air. Kesempatan ini kami gunakan untuk membersihkan badan dan menghilangkan penat.
Perjalanan ke stasiun Mojokerto dilanjutkan. Sepanjang perjalanan, saya dan mbak Kushatini sesekali memejamkan mata. Sementara itu, beberapa anggota pasukan nampak asyik membicarakan cerita pertempuran di sekitar Surabaya yang menelan korban ratusan pejuang. Yang terkena luka tembak, pecahan mortir atau tertusuk bayonet sebagian dirawat di Rumah Sakit Darurat PMI yang menjadi tujuan utama perjalanan kami dari Markas Pusat Pelajar di Jalan Tugu Kulon 70 Yogyakarta. Menurut keterangan yang kami terima sebelum berangkat, tempat perawatan korban pertempuran Surabaya ada di lingkungan SGB Katholik (bruderan).
Kami sampai di stasiun Mojokerto dini hari, Di sana telah menunggu beberapa anggota TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar, nama pasukan Ikatan Pelajar Indonesia Bagian Pertahanan di Jawa Timur). Kami dan barang bawaan segera dinaikkan ke atas dua truk militer tanpa upacara khusus. Mas Isman, begitu Purbatin memanggil nama komandan pasukan TRIP yang menyambut kedatangan kami di stasiun memberi aba-aba agar truk segera dijalankan. Di tengah pekatnya malam itu, saya tak dapat melihat keadaan di luar. Sekitar sejam perjalanan, kami telah memasuki kompleks rumah sakit. Saya dan mbak Kushartini ditempatkan di ruang depan bersama beberapa orang perawat. Sedangkan Purbatin dan pasukannya ditempatkan di asrama yang cukup jauh dari bangsal perawatan.
Setelah mandi dan menyantap makanan yang telah disiapkan oleh kepala perawat, kami beristirahat di kamar. Saya tak mampu memejamkan mata karena di ruang sebelah suara-suara erang kesakitan tak pernah berhenti. Hari pertama kami dibebaskan dari semua tugas merawat korban di bangsal perawatan.  Mbak Kushartini tidur dan mulai terdengar suara dengkurnya. Perjalanan yang sangat melelahkan selama hampir sehari semalam. Saya baru dapat tidur di siang hari sampai sore.
Melihat keadaan korban pertempuran 10 November 1945, hati ini seperti tertusuk benda sangat tajam. Kekejaman penjajahan dan peperangan terlihat sangat jelas, tak membedakan siapapun mereka. Ada yang remuk kaki dan beragam luka tembak. Penugasan seminggu di rumah sakit darurat PMI sangat berkesan, tapi tak menyurutkan niat kami untuk berbakti kepada Ibu Pertiwi. Sebuah harga yang sangat mahal, tak sebanding dengan apapun.


Penugasan Kedua

Hari terakhir ujian kenaikan kelas II baru saja usai, saya ingin bergegas ke kamar asrama yang letaknya bersebelahan dengan ruang kelas. Belum sempat melangkah jauh, seseorang memanggil nama saya. Segera saja saya melangkah,  menuju arah sumber suara. Ternyata yang memanggil adalah Kepala Sekolah yaitu Ibu R.A. Oemijatie (baca Umiyati),  adik kandung dr. Sutomo, salah satu pendiri Budi Utomo. Beliau berperawakan kecil, tapi lincah dan tegas. Hampir semua siswi SGP tahu tentang kemampuan beliau dalam menjiwai masing-masing pribadi.
Setelah mengetuk pintu dan dipersilakan masuk, saya segera mendekat. Ibu Umiyati tampak memegang sepucuk surat.  Beliau lalu membuka pembicaraan.
“ Atiatoen … ini ada surat untukmu dari Markas Pusat. Buka dan bacakan untuk Ibu “, kemudian beliau menyerahkan surat itu kepada saya. Tentu sebuah surat tugas, saya menduga-duga isinya. Surat itu dibuka dengan pisau perlahan-lahan, kuatir sobek. Pendek saja isinya. Yaitu perintah untuk segera menyelenggarkan dapur umum dan tugas kepalang-merahan di Gereja Kristen Jawa Jalan Stasiun (sekarang Jl. Pemuda) Kebumen untuk Front Barat.  Yang menandatangani mbak Sri Daruni, Kepala Staf Putri Markas Pusat Pelajar Yogyakarta.
Dari stasiun tugu, kereta api yang sebagian besar penumpangnya adalah para pelajar mulai bergerak perlahan. Di gerbong itu ada beberapa teman satu sekolah yang berasal dari Wates dan Purworejo. Di salah satu bangku tak jauh dari tempat duduk saya, terlihat sosok kecil yang tak asing dan selalu menjadi teman perjalanan yang menyenangkan. Bagyo, nama ini kelak menjadi pelawak terkenal di jamannya. Siswa SGL (Sekolah Guru Laki-laki) ini suaranya lantang dengan dialek khas Banyumasan. Sayang sekali, kereta yang membawa rombongan kami hanya sampai di Stasiun Kutoarjo. Perjalanan ke Kebumen saya lanjutkan dengan berjalan kaki dan naik delman karena tak ada moda angkutan lain.
Kepada ayah, saya menanyakan keberadaan dua kakak kandung. Mas Achmad Dimjatie saat itu telah berpangkat Letnan TRI dan mas Affandi yang sering keluar masuk markas Tentara Pelajar Kebumen di Kauman (sekarang jadi gedung SMP Muhammadiyah I Kebumen) bersama Agustinus, putra pendeta Gereja Kristen di dekat stasiun. Kebetulan, sewaktu ibu kandung berjualan beras di pasar, Bapak Pendeta Reksodihardjo adalah seorang pelanggan setia. Jadi, hubungan kami telah berlangsung sejak lama dari masa kanak-kanak. Setelah ibu meninggal tahun 1939, yang menyambung tali silaturahmi adalah mas Pandi (Affandi).
” Pak… selama masa libur ini saya ditugaskan di markas darurat yang ada di rumah dinas pendeta, bapaknya Agustinus’, kata saya sambil menyodorkan surat tugas yang rencananya besok hari akan saya serahkan kepada kepala markas atau wakilnya.
” Sama siapa kamu di sana Toen ?”, tanya ayah.
” Teman-teman SGP dari Kebumen.. termasuk dik Wasil (Umi Wasilah) dan dik Cini (Rasini)”, jawab saya menyebut nama dua orang yang telah dikenal ayah.
” Di lumbung ada beberapa ikat padi yang bisa ditumbuk. Yang lain,  kamu cari sendiri. Ayah sementara waktu akan mengungsi di rumah ibu tiri. Ini ada sedikit uang yang bisa kamu pakai untuk membeli garam dan bumbu buat keperluan asrama teman-temanmu di gereja sana”, ayah menyodorkan sejumlah uang yang nilainya cukup banyak.
Surat tugas diterima mas Tjiptardjo, wakil kepala markas. Mas Moedojo sedang ke Purworejo malakukan kordinasi dengan kepala markas TP di sana, mas Pratik (Imam Pratignyo). Dari penjelasan mas Tjip, saya mendapatkan informasi bahwa Markas Pusat Pelajar di Tugu Kulon tengah menyiapkan sebagian besar anggota pasukan yang akan dikirim ke front Barat di sepanjang garis demarkasi yang berbatasan dengan Kali Kemit. Ada yang dikirim melalui markas Karanganyar sebagai pusat komando terdepan. Tapi ada juga yang langsung menuju Puring dan Kuwarasan yang diperkirakan akan menjadi ajang pertempuran besar antara pasukan Republik Indonesia dan tentara pendudukan Belanda serta sekutunya. Markas darurat ini berfungsi sebagai pusat kendali operasi langsung di bawah komando Markas Pusat Pelajar. Karena itu disediakan asrama untuk menampung sementara waktu pasukan yang akan diterjunkan ke titik-titik pertahanan pasukan Republik Indonesia, Mungkin hanya untuk satu dua hari, tapi jumlah mereka ratusan atau ribuan.
Penjelasan singkat wakil kepala markas memberi gambaran yang cukup dalam menyelenggarakan menu bagi para pelajar pejuang kemerdekaan ini. Baik yang disajikan selama mereka menginap maupun sebagai bekal dalam bentuk nasi bungkus (noek). Uang yang saya terima dari mas Tjip diperkirakan tak cukup untuk membeli bahan-bahan makanan meski telah ditambah dengan pemberian ayah. Sebagai penanggung-jawab, saya meminta bantuan pak Pendeta Rekso agar menyiapkan penanak nasi dan pencari kayu bakar. Beliau menunjuk mbak Fatonah yang tinggal di belakang gereja sebagai penanak nasi. Sementara itu, nama si pencari kayu dan keperluan dapur lain tak ingat lagi. Ia seorang lelaki asal Desa Legok di sebelah Barat sungai Luk Ulo.
Di antar teman-teman yang bertugas di asrama, mbak Umiyatun adalah yang tertua. Dia adik kandung mas Martono, komandan Batalyon 300 dan wakil kepala Markas Pusat. Selama bertugas sekitar tiga minggu, mbak Umiyatun sempat dua kali pulang ke rumahnya di Desa Meles, Karanganyar. Dik Cini yang sekampung, tak pernah menengok rumahnya yang ada di desa itu juga. Kedua teman ini masih berkerabat cukup dekat. Saya, dik Wasil dan mbak Hartati yang tinggal tak jauh dari asrama dan markas, sesekali menengok rumah masing-masing. Bahkan, rumah mbak Hartati hanya berjarak kurang dari seratus meter. Karena yang mendapat latihan dasar militer dan kepalangmerahan hanya saya, ketrampilan yang saya peroleh kemudian saya tularkan di sela-sela waktu istirahat. Saya tak pernah memakai atribut lengan (ban) PMI. Yang selalu memakai yaitu Rasini, Umi Wasilah dan Umiyatun. Ketiganya sering bercengkerama dengan anggota pasukan yang memang usianya sebaya.
Saya lebih suka membantu Yu Fathonah di dapur atau mencari bahan sayur dan lauk untuk sediaan hari berikutnya. Pada saat menyiapkan masakan (sayur)  untuk makan malam, kami kehabisan kelapa. Saya minta anggota pasukan yang tengah duduk di teras asrama untuk memetik dari pohon yang ada di kebun belakang rumah kami di Pasarpari.
” Siapa yang bisa memetik kelapa, ikut saya !”, Atiatoen setengah berteriak.
Seorang pemuda berperawakan tinggi mendekat dan menyatakan kesediaannya. Ternyata dia adalah Linus Djentamat dari Kalimantan. Sepanjang jalan, saya dan Hartati tak banyak bicara. Begitu juga dengan Linus. Sesampai di kebun belakang rumah, Linus langsung memanjat pohon kelapa yang tidak terlalu tinggi, sekitar 6 atau 7 meter dengan cekatan.
” Berapa butir yang tua dan muda mbak?”, teriak Linus di atas.
” Yang tua satu tandan… yang masih muda terserah …”, jawab Atiatoen lantang.
Setelah semua kelapa dikumpulkan, beberapa anggota pasukan yang menyusul ikut rombongan kami ada yang langsung menancapkan linggis dan mengupas kulit kelapa dengan cekatan. Seorang lainnya memanjat pohon nangka yang juga ada di kebun belakang rumah kami. Kelapa dan nangka dibawa dengan pikulan dan kami   bergegas kembali ke gereja (asrama). Tak pernah menyangka, peristiwa ini adalah jumpa pertama dan terakhir dengan Linus Djentamat yang pendiam.
Seperti kebanyakan remaja menjelang usia dewasa, anggota pasukan Tentara Pelajar yang dikirim ke Front Barat bersikap wajar. Sesekali mengeluarkan ucapan kotor dan suka menggoda kami baik ketika di dalam, apalagi di luar dapur. Di satu siang yang terik dan panas, seseorang yang dipanggil dengan sebutan Lowo masuk ke dalam dapur dan membuat onar dengan mengambil ubi rebus yang baru saja diturunkan dari tungku. Masih sangat panas. Tanpa pamit dia mengambil beberapa dan menaruhnya di atas daun pisang yang selalu kami siapkan untuk bungkus menu harian.Sambil tertawa terbahak-bahak dia berkata:
” Terima kasih buat singkong rebusnya ya…. Mbak !”, dia berlalu dan menari kecil di depan teman-teman perempuan yang tengah menyobek lembaran daun pisang untuk pembungkus nasi.
” Dasar kampret …tukang copet !”, Rasini menghardik Lowo dengan nada keras.
Bukan malu atau marah, Lowo justru bertambah keras tertawanya. Dan terus menggoda.
Minggu terakhir Agustus 1947 semakin banyak anggota pasukan yang dikirim dari Markas Pusat Yogyakarta maupun sejumlah daerah yang dikerahkan dari markas Purworejo. Dari penuturan mas Tjiptardjo diperoleh kabar bahwa pasukan terakhir akan diberangkatkan dari stasiun Tugu pada tanggal 29 Agustus. Mereka kebanyakan dari Perpis (Pelajar Sulawesi) dan Pelajar Kalimantan. Sedangkan dari Purworejo akan datang pasukan SA/CSA dan TGP. TRIP Jawa Timur dan TP Solo  mengirim sejumlah kecil pasukannya. Boleh disebut bahwa Front Barat adalah satu dari beberapa lokasi pengerahan pasukan pelajar pejuang kemerdekaan ini terbesar di tahun 1947.
Kalau tak salah ingat, malam 30 Agustus adalah malam terakhir asrama markas darurat menjadi tempat menginap sementara pasukan Tentara Pelajar. Malam yang cukup dingin untuk ukuran awal musim penghujan. Tidak seperti biasanya, dapur umum menyediakan makan malam dan nasi 50 bungkus tapi dengan porsi sama dengan hari-hari sebelumnya yang disiapkan 100 nasi bungkus (noek). Rombongan terakhir adalah pasukan yang dikirim Yogya dan Purworejo. Tingkah laku mereka seolah ingin melepas semua ”beban”. Ada yang berteriak seperti kesurupan dan beragam tingkah “aneh” lainnya.
Kepada Umiyatun dan Rasini, Atiatoen sempat menyatakan gundahnya.
”Nganeh-anehi (sangat aneh) tingkah mereka ya mbak..?”, yang dijawab singkat oleh keduanya. ” He eh… ”.
” Jangan-jangan………… ini sebuah pertanda  buruk.. ”, kata Atiatoen dengan nada lebih pelan.
” Itulah…dik Toen. Saya juga kuatir ..”, sela Umiyatun.
Entah sebuah kebetulan atau keberuntungan, beberapa warga masyarakat yang sudah tahu bahwa aula GKJ jadi asrama markas mas TP (sebutan mereka kepada anggota pasukan pelajar pejuang kemerdekaan) mengirim dalam jumlah banyak bahan makanan (singkong dan ketela pohon/ubi jalar), pisang kapok dan raja uter yang enak disantap hangat dengan cara dikukus. Peristiwa serupa berulang pada malam 31.
Selama tiga hari (1 – 3 September 1947) markas dan asrama libur. Dari utusan mas Dimjatie, saya mendapat kabar buruk. Firasat kami ternyata benar. Banyak teman kami gugur di medan laga, Front Barat. Tepatnya di Desa Sidobunder, Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen. Satu korban atas nama Suryoharyono yang akrab dipanggil Hary di semayamkan di teras aula asrama sebelum dibawa ke Yogya bersama jenasah lainnya. Bapak Pendeta Reksodihardjo yang menyiapkan peti jenasahnya.
Sebagaimana ditulis mas Djokowoerjo Sastradipradja yang ditugasi menemukan(kembali), mendata dan membawa korban Palagan Sidobunder ke markas Karanganyar, ada 24 anggota pasukan Tentara Pelajar yang gugur. Hanya 20 orang yang diakui dan dicatat dalam buku sejarah terbitan Pusat Sejarah dan Tradisi TNI yang berjudul “ Peran Tentara Pelajar dalam Perang Kemerdekaan dan Pembangunan, tahun 1995. Sisanya yang 4 orang, karena dianggap kurir atau alasan lain, tidak termasuk dalam daftar.

***
 Penghargaan TP Imam Pratignyo buat Ibu

Semboyan :

1.    ” Kesetiaan kami kepada bangsa dan Negara dari buaian sampai ke liang lahat”.
2.    ”Kami tak akan kembali ke bangku sekolah sebelum penjajah enyah dari bumi pertiwi”.

Kata Mutiara :

1.    Pelan tapi pasti. Bukan yang banyak itu baik, tapi yang baik pastilah yang banyak (alm. Ibu R.A. Oemijatie, Kepala SGP Yogyakarta dalam buku harian Atiatoen).
2.    Memang baik jadi orang penting, tapi jauh lebih penting adalah menjadi orang baik (alm. Bang Imad, Dr. Imadudin – Dosen ITB)

Wednesday, 22 April 2015

Dari Sersan KNIL Menjadi Shodanco PETA




Pada suatu hari seorang pengantar surat menyerahkan sepucuk surat resmi yang isinya singkat sekali yaitu pemuda Soeharto harus segera melapor untuk Dinas Militer dan pada tanggal 1 Juni 1940 pemuda Soeharto diterima masuk Sekolah Militer di Gombong Jawa Tengah. Dorongan lain yang menggugah Soeharto masuk KNIL adalah keinginan yang besar untuk menyaksikan bagian lain dari tanah airnya, seperti pemuda-pemuda lain, dia senang mengembara dan mengharapkan dengan memasuki dinas tentara akan dapat memberikan kepadanya kehidupan yang lebih baikbila dibandingkan dengan kehidupannya yang penuh kekurangan dimasa kecilnya.
Selama enam bulan dididik sebagai seorang calon prajurit KNIL mereka berlatih siang dan malam, sangat berbeda dengan apa yang dialaminya sewaktu di sekolah, menjadi pembantu kyai maupun saat menjadi pembantu klerk bank. Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut prajurit Soeharto ditempatkan di batalion XIII di Rampal dekat malang,Jawa Timur dengan pangkat kopral. Selama berdinas pangkat teringgi yang dia sandang di KNIL adalah sersan. Pada saat Jepang menyerang Indonesia dan pemerintah hindia belanda menyerah pada tanggal 8 Maret 1942, sersan Soeharto beserta teman-temannya dari KNIL dapat menyelamatkan diri saat jepang menyerang daerahnya. Karena tidak sanggup mempertahankan diri dari serangan pasukan jepang , dalam keadaan terpencar akhirnya Soeharto memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya dan tinggal selama beberapa bulan di rumah keluarga Prawiroharjo yang merupakan ayah angkatnya di wonogiri, suatu daerah dekat solo.
Pada tanggal 3 Oktober 1943 Jepang membentuk pasukan sukarela PETA oleh Letnan Jenderal Kumakici Harada panglima tentara XVI Jepang di Indonesia. Pembentukan PETA ini berdasarkan Osama Seirei ( pengumuman pemerintah militer Jepang ) No.44 dimana organisasi semi militer ini dimaksudkan untuk mendidik para pemuda pribumi dalam bidang kemiliteran untuk membantu Jepang untuk mempertahankan wilayah Indonesia dari serangan sekutu. Berita ini tersebar sampai pelosok daerah. Soeharto dengan beberapa temannya pada awalnya mendaftarkan diri sebagai sukarelawan pasukan polisi Jepang , Keibuho. Dia dikirim ke Yogyakarta untuk dididik menjadi polisi pembantu Jepang selama empat bulan. Saat menjadi pembantu Kepala Kepolisian di daerah Yogyakarta atas nasehat dari atasannya Soeharto disarankan untuk pindah ke PETA dan menjalani pendidikan di Sekolah Militer Jepang Jawa Bo-Ei Gyugun Kanbu Rensitai tempat pendidikan para perwira PETA di Bogor. Setelah lulus dan diangkat menjadi Shodanco ( komandan Peleton ) dikirim ke kompi PETA yang berada di wates. Setelah sempat di tarik kembali ke Jakarta Soehato kembali di tugaskan di wates dan ditempatkan di pos pertahanan di wilayah pantai glahgah dan ditempat ini mereka di wajibkan membangun jinshi ( lubang-lubang pertahanan ). Tidak lama bertugas di glagah Soehato dipindah ke Solo. Karena kebutuhan organisasi Soeharto kembali di pindahkan ke Madiun untuk menduduki jabatan sebagai Perwira Staf di Markas PETA. Pada saat Jepang menyerah kepada sekutu dan sesuai dengan perintah Markas Besar Bala Tentara Jepang yaitu perintah untuk membubarkan semua organisasi bersenjata Indonesia, maka pekerjaan atau jabatan Soeharto di PETA pun berakhir.  Pada tanggal 22 Agustus 1945 pemerintah RI membentuk BKR . Soeharto beserta rekan-rekan seperjuangannya di PETA menggabungkan diri menjadi anggota BKR. Soeharto bersama teman-temannya membentuk satu kesatuan BKR di daerah Sentul (sekarang jalan kusuma negara,  yogyakarta ) dan terpilih menjadi wakil komandan , sedangkan komandannya adalah Omar Slamet seniornya semasa di PETA. ( Sumber : Buku Soeharto , Jenderal Besar dari Kemusuk. Disjarahad, 2010. hal 35-59 ).