Thursday, 9 January 2014
Monumen Playen
Playen.
Peralatan stasiun radio AURI, dengan callsign PC-2, diletakkan di dapur
rumah keluarga petani milik almarhum Pawirosetomo. Pembangkit listrik
disembunyikan di tungku tanah dan ditutupi kayu bakar. Sedangkan
antenanya direntangkan pada dua batang pohon kelapa, dipasang hanya pada
malam hari untuk melakukan siaran. Salah satu prestasi stasiun PHB-AURI
PC-2 Playen adalah keberhasilannya menyiarkan berita tentang Serangan
Umum 1 Maret 1949. Siaran berita itu dilaksanakan pada pukul 02.00 WIB
tanggal 2 Maret 1949 ke seluruh jaringan radio AURI bahkan sampai ke
PBB.Kecamatan
Playen terletak di Kabupaten Gunungkidul DIY. Pemancar radio perjuangan
milik AURI yg semula berada dilapangan terbang Gading (tdk jauh dari
Wonosari) harus dipindahkan ke tempat yg aman, Setelah diadakan
peninjauan ke desa2 yg dirasa aman dari
pengamatan Belanda maka dipilihlah desa Banaran Playen yg dianggap aman
dan tenang utk dijadikan tempat pemindahan pemancar radio tsb. Dari
tempat inilah terbuka hubungan ke luar negeri. di kampung ini jg
diadakan dapur umum utk mendukung perjuangan di daerah Gunungkidul
Monumen Brimbo Sedayu,Kemusuk
Monumen Brimbo / Monumen Setu legi. Pendirian monumen ini dilatarbelakangi oleh peristiwa pada hari Sabtu Legi, 7 Januari 1949, Belanda melakukan operasi secara mendadak dan banyak korban yang berjatuhan. Beberapa perangkat desa disandera agar mau menunjukkan markas TNI ataupun orang-orang yang berkhianat kepada mereka. Jumlah korban jiwa ada 23 orang, dan rumah yang dibakar berjumlah 123 unit.
Jembatan Bantar Kulon Progo
Jembatan Bantar adalah saksi sejarah pertempuran tentara Republik dengan Belanda. Zaman perjuangan dulu pasukan Republik sering memasang ranjau di jembatan ini untuk menghambat pergerakan tentara penjajah yang akan masuk kota Jogjakarta dari arah barat, dan merupakan daerah militer Ventje H.N. Sumual di perkuat dalam buku memoarnya : " Suatu sore, tanggal 12 Februari, saat itu saya sedang memimpin penyerangan terhadap Pos Besar tentara Belanda di Jembatan Bantar, seorang anak buah datang menghadap menyerahkan sepucuk surat yang dihantar oleh kurir. Ternyata surat dari Letkol Soedarto, Komandan SWK 106. Saya diminta untuk datang ke Kulon Progo, di Desa Semaken.."
RB.Visser ( Mohammad Idjon Djanbi )
RB.
Visser alias Mohammad Idjon Djanbi meninggal dunia pada 1 April 1977 di
RS Panti Rapih Yogyakarta, kemudian dimakamkan di TPU Pracimalaya Jl
Turangga Kuncen, Yogyakarta. Istri dan anak beliau sekarang tinggal di
Prawirotaman MG 2/624, Yogyakarta.
http:// jogja.tribunnews.com/2013/ 08/30/ ini-cerita-putra-kedua-idjo n-djanbi-tentang-akhir-hay at-sang-pendiri-kopassus/
http://
Wiyogo Atmo Darminto
Wiyogo
adalah seorang militer tulen, ia memulai karir di Kota Yogyakarta. Pada
tahun 1945 Wiyogo terlibat dalam pertempuran bersenjata di Kotabaru,
Yogyakarta, ia memegang 150 pasukan bersenjata tajam dan senapan bayonet
menyerang markas bersenjata Jepang itu. Serangan itu sendiri dipimpin
seorang Kapten berusia muda bernama Suharto,
Setelah
pertempuran Kotabaru Yogyakarta, Wiyogo bertugas sebagai komandan kompi
pasukan pengamanan kota Yogyakarta. Suharto yang saat itu berpangkat
Letnan Kolonel diangkat jadi Komandan Wehrkreise X dan membawahi pasukan
Wiyogo. Saat menjelang serangan umum 1949. Wiyogo berada di sektor
barat kota Yogyakarta, ia menempati sebuah rumah kosong di jalan
Wirobradjan (sekarang seberang SMAN 1 Yogyakarta -dekat pasar klithikan
Yogya) sebagai markas pasukan Wiyogo yang juga lebih dikenal Kompi Wiyogo.
Ketika pertempuran Janur Kuning meledak di seantero kota Yogya, pasukan
Wiyogo banyak bergerak di sekitar Lempuyangan belakan stasiun kereta
api. Di sana kemudian Pasukan Wiyogo masuk ke sekitar wilayah Malioboro
pada sekitar pukul 7.00 wib dan mundur ke utara pada jam 10.15 wib.
Pasukan Wiyogo juga yang berhasil memitraliyur 15 serdadu Belanda yang
berjaga-jaga di depan betheng Keraton. Setelah pertempuran selesai
Wiyogo melapor pada Suharto dan menjelaskan penyerangannya.
Pada saat serah terima kekuasaan setelah Belanda sepakat keluar dari
Indonesia, Wiyogo diangkat sebagai kepala protokoler serah terima
pasukan. Setelah Perang Yogya 1949 karir Wiyogo tampaknya tenggelam..
Friday, 3 January 2014
Monumen Bibis
Monumen Bibis, secara administratif terletak di dusun Bibis, desa Bangunjiwo, kecamatan Kasihan, kabupaten Bantul DI. Yogyakarta. Bangunan yang didirikan oleh Nyai Trunomenggolo ini mempunyai peran dalam sejarah, terutama pada masa perang kemerdekaan, karena bangunan ini digunakan sebagai markas atau tempat pertahanan pasukan Letkol Soeharto saat agresi militer II.Saat ini kondisi bangunan Monumen Bibis mengalami beberapa kerusakan, karena faktor usia dan kurang terawatnya bangunan. Bangunan joglo yang dulu dipergunakan sebagai markas tampak kotor, berdebu, dan rusak pada bagian dinding bangunannya. Beberapa benda yang dahulu dipakai pak Harto, seperti meja, kursi, peralatan makan, minum, mesin ketik manual, sepeda onthel, dan arsip-arsip foto tampak berdebu. pilihan Letkol Suharto atas desa Bibis sgt tepat krn terletak di daerah yg berbukit2 yg dibawahnya hanya ada area persawahan luas sehingga cocok utk persembunyian & akan mudah melihat musuh yg akan mendekati ..rmh kepala dukuhnya srg digunakan sebagai tempat pertemuan para komandan sektor dari daerah pertempuran lain. Sjk kedtgan pasukan gerilya Letkol Soeharto di desa Bibis secara bersama2 membuat pertahanan2 dgn menggali parit2 disekitar desa. kegotongroyongan warga desa Bibis ini sgt memegang peranan penting bagi perjuangan Jogja pd masa tsb
Subscribe to:
Posts (Atom)






