Djokjakarta

Thursday, 9 January 2014

Peristiwa Gedung Agung 21 September 1945

Yogyakarta 21 September 1945. Pada pukul 13.00 di depan Balai Mataram berkumpul massa rakyat. Mereka beramai-ramai mengibarkan Sang Saka Merah Putih di Balai Mataram. Setelah berhasil mengibarkan Sang Saka Merah Putih di Balai Mataram, massa rakyat dengan gagah berani memasuki Tyookan Kantai dengan tujuan yang sama.

Sebelum penurunan bendera Hinomaru dan pengibaran Sang Saka Merah Putih di Tyookan Kantai itu diadakan perundingan dengan Koochi Zimmukyoku Tyookan di Tyookan Kantai. Sebagai juru bicara rakyat adalah Jalaludin Nasution Sekretaris Promotor Pemuda Nasional (PPN). Sementara itu dua orang anggota Polisi Istimewa yaitu Sunarjo dan sarjono ikut menyaksikan perundingan antara Jalaludin Nasution dengan petinggi Jepang. Pada mulanya pihak Jepang menyetujui permintaan delegasi rakyat, yaitu penurunan bendera Hinomaru dan pengibaran Sang Saka Merah Putih. Akan tetapi setelah Sang Saka Merah Putih dikibarkan, Jepang ingkar janji. Penguasa Jepang kemudian menurunkan Sang Saka Merah Putih dan mengibarkan kembali bendera Hinomaru. Hal ini membuat rakyat marah dan mereka berkumpul di depan Tyookan Kantai. Dengan semangat yang berkobar massa rakyat dengan dibantu Polisi Istimewa berusaha menerobos penjaga Jepang yang bersenjata. Tanpa mempedulikan bahaya yang mengancam, lima orang muda yaitu Slamet, Sultan Ilyas, sapardi, Rusli dan Siti Ngaisah berhasil menerobos penjaga Jepang dan kemudian naik di atas atap gedung Tyookan Kantai untuk menurunkan bendera Hinomaru dan menggantikannya dengan Sang Saka Merah Putih. Peristiwa itulah sebagai awal runtuhnya Jepang di Yogyakarta. Kemudian pada tanggal 5 Oktober 1945 gedung Tyookan Kantai berhasil direbut dan dikuasai massa rakyat. Selanjutnya gedung ini dipergunakan sebagai gedung Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Yogyakarta. (R. Sunardjo, 1974 : 3 – 4 lihat juga Djamal Marsudi; 1985 : 55 – 56). Gedung Tyookan Kantai ini setelah dipergunakan Komite Nasional Indonesia Daerah diberi nama Gedung Nasional Yogyakarta.
Djokjakarta 22 September 1945, akibat dari kejadian sehari sebelumnya pihak Jepang marah dan melucuti senjata kesatuan polisi Istimewa di Gayam yg kemudian dikumpulkan di gedung mereka. Oni Sastroadmojo komandan kompi polisi istimewa segara lapor atas kejadian tsb ke Kompol Soedarsono. krn kegagalan Kompol Soedarsono dgn pihak Jepang utk meminta kembali senjata2 tsb maka tgl 23 September 1945 bergeraklah masa rakyat, polisi dan pemuda mengepung markas Jepang, akhirnya senjata2 tsb dpt direbut kembali sebagai modal perjuangan selanjutnya.

Monumen Playen

Playen. Peralatan stasiun radio AURI, dengan callsign PC-2, diletakkan di dapur rumah keluarga petani milik almarhum Pawirosetomo. Pembangkit listrik disembunyikan di tungku tanah dan ditutupi kayu bakar. Sedangkan antenanya direntangkan pada dua batang pohon kelapa, dipasang hanya pada malam hari untuk melakukan siaran. Salah satu prestasi stasiun PHB-AURI PC-2 Playen adalah keberhasilannya menyiarkan berita tentang Serangan Umum 1 Maret 1949. Siaran berita itu dilaksanakan pada pukul 02.00 WIB tanggal 2 Maret 1949 ke seluruh jaringan radio AURI bahkan sampai ke PBB.Kecamatan Playen terletak di Kabupaten Gunungkidul DIY. Pemancar radio perjuangan milik AURI yg semula berada dilapangan terbang Gading (tdk jauh dari Wonosari) harus dipindahkan ke tempat yg aman, Setelah diadakan peninjauan ke desa2 yg dirasa aman dari pengamatan Belanda maka dipilihlah desa Banaran Playen yg dianggap aman dan tenang utk dijadikan tempat pemindahan pemancar radio tsb. Dari tempat inilah terbuka hubungan ke luar negeri. di kampung ini jg diadakan dapur umum utk mendukung perjuangan di daerah Gunungkidul

Monumen Brimbo Sedayu,Kemusuk

Monumen Brimbo / Monumen Setu legi. Pendirian monumen ini dilatarbelakangi oleh peristiwa pada hari Sabtu Legi, 7 Januari 1949, Belanda melakukan operasi secara mendadak dan banyak korban yang berjatuhan. Beberapa perangkat desa disandera agar mau menunjukkan markas TNI ataupun orang-orang yang berkhianat kepada mereka. Jumlah korban jiwa ada 23 orang, dan rumah yang dibakar berjumlah 123 unit.

Jembatan Bantar Kulon Progo

Jembatan Bantar adalah saksi sejarah pertempuran tentara Republik dengan Belanda. Zaman perjuangan dulu pasukan Republik sering memasang ranjau di jembatan ini untuk menghambat pergerakan tentara penjajah yang akan masuk kota Jogjakarta dari arah barat, dan merupakan daerah militer Ventje H.N. Sumual di perkuat dalam buku memoarnya : " Suatu sore, tanggal 12 Februari, saat itu saya sedang memimpin penyerangan terhadap Pos Besar tentara Belanda di Jembatan Bantar, seorang anak buah datang menghadap menyerahkan sepucuk surat yang dihantar oleh kurir. Ternyata surat dari Letkol Soedarto, Komandan SWK 106. Saya diminta untuk datang ke Kulon Progo, di Desa Semaken.."

RB.Visser ( Mohammad Idjon Djanbi )

RB. Visser alias Mohammad Idjon Djanbi meninggal dunia pada 1 April 1977 di RS Panti Rapih Yogyakarta, kemudian dimakamkan di TPU Pracimalaya Jl Turangga Kuncen, Yogyakarta. Istri dan anak beliau sekarang tinggal di Prawirotaman MG 2/624, Yogyakarta.

http://jogja.tribunnews.com/2013/08/30/ini-cerita-putra-kedua-idjon-djanbi-tentang-akhir-hayat-sang-pendiri-kopassus/

Wiyogo Atmo Darminto

Wiyogo adalah seorang militer tulen, ia memulai karir di Kota Yogyakarta. Pada tahun 1945 Wiyogo terlibat dalam pertempuran bersenjata di Kotabaru, Yogyakarta, ia memegang 150 pasukan bersenjata tajam dan senapan bayonet menyerang markas bersenjata Jepang itu. Serangan itu sendiri dipimpin seorang Kapten berusia muda bernama Suharto,

Setelah pertempuran Kotabaru Yogyakarta, Wiyogo bertugas sebagai komandan kompi pasukan pengamanan kota Yogyakarta. Suharto yang saat itu berpangkat Letnan Kolonel diangkat jadi Komandan Wehrkreise X dan membawahi pasukan Wiyogo. Saat menjelang serangan umum 1949. Wiyogo berada di sektor barat kota Yogyakarta, ia menempati sebuah rumah kosong di jalan Wirobradjan (sekarang seberang SMAN 1 Yogyakarta -dekat pasar klithikan Yogya) sebagai markas pasukan Wiyogo yang juga lebih dikenal Kompi Wiyogo.

Ketika pertempuran Janur Kuning meledak di seantero kota Yogya, pasukan Wiyogo banyak bergerak di sekitar Lempuyangan belakan stasiun kereta api. Di sana kemudian Pasukan Wiyogo masuk ke sekitar wilayah Malioboro pada sekitar pukul 7.00 wib dan mundur ke utara pada jam 10.15 wib. Pasukan Wiyogo juga yang berhasil memitraliyur 15 serdadu Belanda yang berjaga-jaga di depan betheng Keraton. Setelah pertempuran selesai Wiyogo melapor pada Suharto dan menjelaskan penyerangannya.

Pada saat serah terima kekuasaan setelah Belanda sepakat keluar dari Indonesia, Wiyogo diangkat sebagai kepala protokoler serah terima pasukan. Setelah Perang Yogya 1949 karir Wiyogo tampaknya tenggelam..

Friday, 3 January 2014

Monumen Bibis

Monumen Bibis, secara administratif terletak di dusun Bibis, desa Bangunjiwo, kecamatan Kasihan, kabupaten Bantul DI. Yogyakarta. Bangunan yang didirikan oleh Nyai Trunomenggolo ini mempunyai peran dalam sejarah, terutama pada masa perang kemerdekaan, karena bangunan ini digunakan sebagai markas atau tempat pertahanan pasukan Letkol Soeharto saat agresi militer II.Saat ini kondisi bangunan Monumen Bibis mengalami beberapa kerusakan, karena faktor usia dan kurang terawatnya bangunan. Bangunan joglo yang dulu dipergunakan sebagai markas tampak kotor, berdebu, dan rusak pada bagian dinding bangunannya. Beberapa benda yang dahulu dipakai pak Harto, seperti meja, kursi, peralatan makan, minum, mesin ketik manual, sepeda onthel, dan arsip-arsip foto tampak berdebu. pilihan Letkol Suharto atas desa Bibis sgt tepat krn terletak di daerah yg berbukit2 yg dibawahnya hanya ada area persawahan luas sehingga cocok utk persembunyian & akan mudah melihat musuh yg akan mendekati ..rmh kepala dukuhnya srg digunakan sebagai tempat pertemuan para komandan sektor dari daerah pertempuran lain. Sjk kedtgan pasukan gerilya Letkol Soeharto di desa Bibis secara bersama2 membuat pertahanan2 dgn menggali parit2 disekitar desa. kegotongroyongan warga desa Bibis ini sgt memegang peranan penting bagi perjuangan Jogja pd masa tsb